Mengukur kecerdasan seseorang bukanlah hal yang mudah. Kita mengambil contoh rapor sekolah. Biasanya, pelajaran di sekolah selalu berkaitan dengan penghafalan. Namun, apakah nilai baik yang diperoleh dari kegiatan menghafal menjadi indikator kecerdasan seseorang yang tepat? Belum tentu. Begitu juga dengan tes IQ yang tidak selamanya akurat, mengingat hasil berupa angka tersebut tidak mampu mendeskripsikan luasnya kecerdasan seseorang dengan terperinci.
Kalau begitu, bagaimana cara mengetahui kecerdasan kita? Well, menurut berbagai studi, ada beragam kebiasaan yang umumnya dimiliki oleh orang pintar. Yuk, kita simak!
 
1. Terbangun sampai larut malam
ilustrasi bergadang (unsplash.com/Victoria Heath)
"Bergadang jangan bergadang, kalau tiada artinya. Bergadang boleh saja, kalau ada perlunya."
Meskipun lagu Rhoma Irama sudah memberikan wejangan untuk tidak bergadang, ternyata kebiasaan bergadang dimiliki oleh orang pintar, lho! Melansir The Healthy, penemuan London School of Economics and Political Science menunjukkan bahwa mereka yang tidur larut malam memiliki IQ yang lebih tinggi.
 
Penulis penelitian tersebut percaya bahwa hal ini berakar dari masa nenek moyang kita. Malam hari merupakan sesuatu yang berbahaya sehingga mereka harus lebih cerdas dalam menghadapi gelap gulita, bukan tidur. Selain kepercayaan ini, ada juga teori bahwa orang pintar biasanya lebih introvert dan lebih menyukai malam yang tenang untuk bekerja secara produktif tanpa gangguan. Namun, perlu diingat pula bahwa jam tidur harus mencukupi karena akan berdampak pada kesehatan.
 
 
2. Tempat kamu berantakan!
ilustrasi tempat kerja yang berantakan (unsplash.com/Wonderlane)
Kebersihan dan kerapian biasanya merupakan karakteristik yang sering dilekatkan pada orang pintar. Namun, eksperimen dari University of Minnesota membuktikan bahwa partisipan dalam ruang yang berantakan cenderung lebih kreatif dibandingkan partisipan dalam ruang yang tertata rapi.
 
Seorang ilmuwan riset bernama Jonathan Wai mengatakan,
"Saya kira bukan tempat berantakanlah yang membantu kreativitas, melainkan kreativitaslah yang menciptakan tempat yang berantakan. Orang-orang seperti itu cenderung tersesat dalam pemikiran yang berfokus pada masalah sehingga kebersihan menjadi kurang penting dibandingkan fokus pada masalah yang dihadapi."
 
 
3. Senang menggambar doodle
ilustrasi menggambar doodle (unsplash.com/Matt Bero)
Menggambar doodle adalah alat berpikir yang efektif untuk mengolah informasi dan memecahkan masalah sebagaimana dilansir The Wall Street Journal. Pernyataan ini didukung penelitian berjudul 'What does doodling do' oleh Jackie Andrade yang menemukan bahwa orang-orang dapat mengingat 29 persen lebih banyak informasi apabila mereka melakukan doodle.
 
Menurut 1MD Nutrition, menggambar doodle merupakan tanda bahwa otak kamu masih bekerja bahkan ketika kamu tidak bekerja. Mencoret-coret tanpa berpikir bermanfaat untuk ingatan dan memberi otak cara visual untuk mengekspresikan konsep dan emosi.
 
 
4. Mengetahui banyak kata kasar
ilustrasi berkata kasar (unsplash.com/Icons8 Team)
Sering berbicara kata-kata yang umumnya tidak lulus sensor di game? Nah, mengutip Medical Daily, studi Timothy Jay dan rekannya menemukan bahwa makin banyak kata makian yang diketahui, makin banyak pula perbendaharaan kata secara umum yang dimiliki orang tersebut.
 
Akan tetapi, bukan berarti kamu dapat menyalahgunakan kata kasar dan terus-menerus menggunakannya tanpa alasan. Mengetahui kapan waktu yang tepat dan bagaimana cara memakai kata kasar ini merupakan bagian kecerdasan emosional kamu.
 
 
5. Menyukai dark jokes
ilustrasi orang tertawa (unsplash.com/Jamie Brown)
Dari sekian banyak jokes, dark jokes menjadi jenis lelucon yang sensitif dan kurang cocok untuk dilontarkan dalam pembicaraan pada umumnya. Walaupun begitu, studi tahun 2017 di University of Vienna menunjukkan bahwa partisipan penelitian yang memahami dark jokes memiliki skor yang lebih tinggi dalam kategori kecerdasan verbal dan nonverbal.
 
Topik dark jokes dalam studi tersebut berhubungan dengan kematian, penyakit, disabilitas, dan peperangan, tentunya dikemas dalam bentuk humor. Memang sih studi sudah membuktikan dampak positif dark jokes. Namun, kamu harus melihat kondisi terlebih dahulu sebelum membuat lelucon tersebut.
 
 
6. Lebih senang menjadi penyendiri
ilustrasi kesendirian (unsplash.com/Dan Gribbin)
Peneliti dari London School of Economics and Political Science dan Singapore Management University menganalisis data dari survei yang melibatkan lima belas ribu orang dari usia 18 hingga 28 tahun. Ribuan partisipan ini juga diminta untuk mengikuti tes IQ. Bagaimana hasil temuannya?
 
Ternyata bagi orang dengan tingkat kecerdasan yang tinggi, bersosialisasi dengan teman dikaitkan dengan sikap tidak bahagia. Menurut Carol Graham, peneliti dari Brookings Institution yang tidak berhubungan dengan studi tersebut, orang-orang yang lebih cerdas cenderung tidak menghabiskan waktu banyak untuk bersosialisasi karena mereka terfokus pada tujuan jangka panjang yang lain.
 
 
7. Cenderung mengkritik diri sendiri
ilustrasi berkaca (unsplash.com/Darius Bashar)
Efek Dunning-Kruger mungkin tidak asing lagi di telinga kamu. Laman Verywell Mind menjelaskan bahwa efek tersebut merupakan bias kognitif di mana orang percaya bahwa mereka lebih pintar dan lebih mampu daripada keadaan yang sebenarnya. Orang yang tidak kompeten tidak mengenali ketidakmampuan mereka sendiri, sehingga penilaian diri meningkat.
 
Dalam penelitian oleh Justin Kruger dan David Dunning, efek tersebut bukan satu-satunya hasil yang ditemukan. Faktanya, The Healthy melaporkan bahwa studi tersebut juga menunjukkan kecenderungan orang cerdas untuk meremehkan kemampuannya. Dengan kata lain, mereka kritis terhadap diri sendiri.
 
Itulah kebiasaan yang umumnya dimiliki oleh orang pintar. Sekali lagi, perlu diingat bahwa kecerdasan merupakan sesuatu yang kompleks. Jika kamu tidak memiliki kebiasaan tersebut, belum tentu kamu tidak pintar.
 
 
 
 
sumber : [ idntimes.com | Mikhaangelo Fabialdi Nurhapy | Editor: Bayu D Wicaksono, Stella Azasya, Bayu Aditya Suryanto ]