Malioboro terus berbenah. Pembangunan dilakuan di berbagai titik untuk menjawab kebutuhan dan tantangan zaman. Berbagai fasilitas pun disediakan agar bisa melayani warga dan para wisatawan yang tak pernah berhenti mengunjungi jalan legendaris ini.

Kawasan wisata Malioboro memang menjadi magnet bagi para wisatawan.

Di tempat ini, mereka akan mendapatkan suasana lain dari pada yang lain.

Ada nuansa modernitas yang diwakili oleh mal-mal megah yang menjajakan barang-barang kekinian.

Tapi di tempat yang sama, ada pula kearifan lokal dan nilai-nilai tradisional yang masih terpelihara hingga sekarang.

Langkahkan saja kaki Anda hingga menuju ke Pasar Beringharjo.

Di sini Anda akan menemukan para penjual angkringan, ada sate kere, dan berbagai buah tangan hasil kreasi warga.

Di masa pandemi ini, Anda juga akan menemukan para petugas yang mengenakan pakaian-pakaian tradisional.

Suasana tradisional semakin terasa begitu Anda melewati andong demi andong yang mangkal di kawasan wisata ini.


Belum cukup sampai di situ, suasana eksotis sangat kental terasa begitu matahari mulai beranjak ke peraduan.

Lampu-lampu kota yang berjajar rapi akan menyempurnakan malam Anda di jantung Kota Yogyakarta dengan ditemani para seniman musik jalanan.

Namun tahukah Anda bagaimana suasana Malioboro jaman dulu? Saat kendaraan masih jarang, pepohonan masih rimbun, dan saat lampu lalu lintas masih dijaga oleh seorang polisi di tengah perempatan.

Penasaran seperti apa suasana Malioboro tempo dulu? Simak melalui foto-foto berikut yang sebagian di antaranya diabadikan oleh Charles Breijer, seorang fotografer Belanda :

 

1. Ada andong, becak, warga, dan polisi lalu lintas

Suasana persimpangan Jalan Malioboro tahun 1948. Tampak dalam gambar terdapat andong, becak, polisi lalu lintas dan warga | Foto karya Charles Breijer (Nederlands Fotomuseum | Memory of the Netherlands)

 

2. Andong di Jalan Malioboro

Andong yang beroperasi di Jalan Malioboro pada tahun 1948 | Foto karya Charles Breijer (Nederlands Fotomuseum | Memory of the Netherlands)

 

3. Gaya busana warga di tahun 1948

Warga tampak sedang berada di kawasan jalan Malioboro pada tahun 1948 | Foto karya Charles Breijer (Nederlands Fotomuseum | Memory of the Netherlands)

 

4. Polisi lalu lintas

Polisi lalu lintas sedang bertugas di Jalan Malioboro pada tahun 1948 | Foto karya Charles Breijer (Nederlands Fotomuseum | Memory of the Netherlands)

 

5. Mahasiswi UGM

Foto mahasiswi Universitas Gadjah Mada saat melewati Jalan Malioboro pada tahun 1948 | Foto karya Charles Breijer (Nederlands Fotomuseum | Memory of the Netherlands)

 

6. Warga saat melintas di Jalan Malioboro

Suasana Jalan Malioboro di tahun 1948 | Foto karya Charles Breijer (Nederlands Fotomuseum | Memory of the Netherlands)

 

7. Gaya busana pejabat di tahun 1933

Tuan dan nyonya Vattier Kraane berangkat menuju perjamuan oleh gubernur Yogyakarta di Grand Hotel (sekarang Hotel Garuda), Jalan Malioboro tahun 1933 (Koleksi Tropenmuseum / Wikimedia Commons)

 

8. Suasana Jalan Malioboro di tahun 1900an

Suasana Jalan Malioboro sekitar tahun 1900 - 1940. Dalam keterangannya, disebutkan bahwa bangunan apotek di sebelah kanan masih ada hingga tahun 1970an, sementara deretan pepohonan di sebelah kiri sudah tidak ada lagi. (Koleksi Tropenmuseum / Wikimedia Commons)

 

9. Suasana Jalan Malioboro di tahun 1900an

Periode panjang pertumbuhan ekonomi yang dimulai sekitar tahun 1900 berakhir pada tahun 1929. Keruntuhan pasar saham Wall Street, New York, yang menandai Depresi terkenal tahun 1930-an di Eropa dan AS, juga dirasakan di Indonesia, meskipun dengan beberapa penundaan. Foto ini diambil kurang lebih pada titik nadir Depresi. Di mana-mana di Jawa jumlah orang yang harus hidup dari suatu bentuk perdagangan kecil meningkat. Pergi dari pintu ke pintu dengan barang-barang buatan sendiri, seperti 'stroop' (semacam limun) di foto, adalah salah satu pilihan. (P. Orchard, 2001). Penjual sirup (minuman dingin) di jalan utama Malioboro di Yogyakarta, Jawa. Asosiasi Dagang 'Onderling Belang' (pada gambar di sebelah kanan) dibubarkan pada tahun 1934. Penjual 'sirup' Jawa, Jogjakarta, 1934 (Koleksi Troppenmuseum / Wikimedia Commons)

 

10. Suasana Jalan Malioboro tahun 1900an

Suasana Jalan Malioboro antara tahun 1900 - 1940 (Koleksi Troppenmuseum / Wikimedia Commons)

 


[ sumber : TribunJogja.com | Penulis: Mona Kriesdinar | Editor: Mona Kriesdinar ]